Inilah Alasan Mengapa Ikan Laut Harus Diawetkan

Saat ini produksi dan panen ikan di wilayah Indonesia semakin berkembang. Menurut tempat hidup dan asalnya maka ikan laut di perairan Indonesia secara umum dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.

Pertama adalah golongan demersal yaitu ikan yang didapat dari perairan yang dalam seperti ikan kod.

Golongan kedua adalah ikan pelagik yang dibagi menjadi dua yaitu pelagik besar dan pelagik kecil. Ikan pelagik besar adalah jenis ikan besar yang hidup di permukaan laut seperti tuna, cakalang. Sementara pelagik kecil adalah ikan kecil yang hidup di permukaan laut seperti tongkol, ikan sarden dan lainnya.

Golongan terakhir adalah ikan anadromus dan katradromus dimana ikan ini hidup di dua alam yaitu air laut yang asin dan air tawar. Contoh misalnya ikan bandeng, ikan salmon dan lainnya.

Ikan yang ditangkap di laut lepas sebaiknya diawetkan terlebih dahulu untuk mempertahankan kesegaran dan mutu ikan selama dan sebaik mungkin.

Mengapa Ikan Harus Diawetkan?

ikan-kakap-merah

Ikan Kakap Merah Beku – pixabay.com

 

Tujuan dari proses pengawetan ikan diantaranya adalah mencegah proses pembusukan pada ikan, terutama pada saat panen yang melimpah.

Tujuan lainnya dari proses ini adalah untuk meningkatkan jangkauan pemasaran ikan hingga sampai ke daratan bahkan sampai wilayah pegunungan dan terpencil.

Pengawetan terhadap ikan laut dilakukan karena beberapa hal diantaranya adalah tubuh ikan yang mengandung protein dan air yang cukup tinggi, sehingga ikan menjadi media yang sangat baik dan cocok bagi pertumbuhan bakteri pembusuk dan mikroorganisme lainnya.

Produksi ikan yang bersifat musiman juga yang mengharuskan mengapa kita harus mengawetkan ikan sementara kebutuhan manusia akan ikan tidak pernah mengenal musim.

Ikan segar yang baru ditangkap apabila tidak diawetkan akan mengalami proses sebagai berikut.

Kondisi pertama adalah apa yang disebut dengan pre-rigor, dengan jangka waktu kurang dari 6 jam, ikan tersebut masih seperti ikan segar dengan sifat daging yang masih elastis.

Kondisi berikut yang terjadi pada ikan adalah kondisi rigor mortis, dimana tubuh ikan menjadi kaku dan daging tidak elastis. Ini terjadi setelah 6 jam ikan ditangkap.

Kondisi terakhir adalah apa yang disebut dengan post rigor, dengan ciri-ciri banyak keluar lendir pada ikan karena oksidasi, ciri lainnya adalah sisik yang sudah mulai lepas dan ikan sudah mulai busuk.

Teknik dan Cara Pengawetan Ikan Laut

Pengawetan Ikan dan Cumi dengan Cara Dijemur

Pengawetan Ikan dan Cumi dengan Cara Dijemur – pixabay.com

 

Hampir semua cara pengawetan ikan meninggalkan sifat-sifat khusus pada setiap olahannya. Hal ini disebabkan karena berubahnya sifat-sifat asli ikan seperti bau, cita rasa, wujud dan tekstur daging ikan.

Saat ini proses pengawetan ikan yang umum dilakukan di Indonesia adalah dengan beberapa cara diantaranya dengan menggunakan suhu rendah dan menggunakan suhu yang tinggi.

Dengan menggunakan suhu rendah, bakteri pembusuk yang biasanya hidup pada suhu normal 0 – 30 C aktivitasnya akan terhambat dan bahkan berhenti sama sekali.

Dengan menggunakan suhu tinggi misalnya adalah dengan cara pengasapan. Dengan menggunakan cara ini maka bakteri pembusuk dapat dimatikan pada suhu 80 – 90 C.

Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengawetkan ikan adalah dengan mengurangi kadar air pada ikan. Caranya adalah dengan menggunakan udara panas (penjemuran), oven atau alat pengering khusus.

Pengurangan kadar air pada ikan laut juga dapat dilakukan dengan cara penggunaan tekanan dan menggunakan proses osmosis atau konsentrasi air di dalam dan luar tubuh ikan yang dibuat berbeda.

Beberapa orang juga menggunakan zat antiseptik, asam cuka, natrium benzoat, natrium nitrat untuk mengawetkan ikan laut dimana cara ini sangat tidak dianjurkan karena menggunakan bahan-bahan kimia yang bisa saja berpengaruh pada reaksi beberapa orang yang alergi terhadap zat kimia.

Seiring perkembangan teknologi, ada juga yang menggunakan ruang hampa udara untuk menghindari oksidasi lemak yang dapat menimbulkan bau yang tidak enak pada ikan.

Namun di beberapa tempat masih banyak juga orang yang menggunakan cara tradisional untuk mengawetkan ikan laut yaitu dengan cara pengasinan.

Proses pengasinan ikan laut itu sendiri terdiri dari beberapa macam cara seperti pengasinan dengan cara basah dan cara kering.

Hal yang paling krusial dalam pengasinan ini selain kandungan garam juga kondisi sinar matahari. Sehingganya ketika musim hujan maka akan banyak ikan asin yang tidak terpapar sinar matahari secara maksimal dan ini juga berpengaruh pada kualitas ikan asin.

Itulah tadi alasan mengapa ikan harus diawetkan dilengkapi dengan cara-cara dan teknik pengawetan ikan yang ada di Indonesia.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *